Kau
Rasanya bagaikan sebuah bom molotov berdebam tepat di dadaku. Berkali-kali aku merasakan penyesalan yang tiada hentinya. Pernah terbesit di hatiku apa aku harus meninggalkanmu supaya aku bisa melihatmu tersenyum dan tak melihat sedikit air mata yang jatuh dari matamu. Rasanya dunia bagai terbalik dan membuat ilusi dengan apapun. Aku tak bisa berpikir jernih. Aku terus menangis dan meringis kesakitan sambil memegang dadaku. Rasanya seperti ada lubang yang tergali dalam sekali diikuti dengan air panas dengan suhu paling tinggi yang disiram sekaligus. Mungkin ini yang sering disebut dengan "ngilu".
Aku tak pernah berharap atau sekali pun berencana untuk menyakitimu. Aku tak pernah sekali pun meminta kau untuk pergi. Dan sebenarnya aku tahu kau tak bahagia denganku. Jika suatu saat nanti kau memutuskan untuk meninggalkanku, apa aku harus mengekangmu untuk tetap bertahan bersamaku? Aku begitu mencintaimu sampai-sampai aku rela melepaskanmu karena aku tak ingin kau terluka dan tersakiti saat bersamaku. Lagi.
Aku menulis ini dengan perasaan sedih bukan kepalang. Setengah mati menahan air mataku agar tak jatuh dengan deras. Dan jika suatu saat kau benar-benar untuk memilih pergi dariku maka ketahuilah kau telah meruntuhkan kokohnya hatiku yang telah kubangun sejak trauma cinta enam setengah tahun lalu. Kau sukses mencabik, merobek, dan membakar setiap lukaku yang baru saja sembuh. Kau telah menghancurkan separuh jiwa yang kembali karena yang dulu entah pergi kemana. Lalu coba tebak? Saat aku 'padam' seperti itu, apa menurutmu aku mudah membangun lagi semuanya? Apa aku cukup kuat lagi untuk merangkak dan bangkit dari lubang yang dalam? Dengan tegas dan lantang akan kujawab tidak.
Mungkin aku benar. Jika saja kita tidak memutuskan untuk mengikat cinta bersama, mungkin saja kau takkan terus menerus dilanda dilema. Namun, aku tak menyesal. Sungguh. Mungkin ini adalah sebuah proses yang harus kita lewati bersama. Merasakan pedih, tangis dan sakit yang terukir dengan pertengkaran yang sudah-sudah. Aku tak pernah berharap untuk mengulanginya kembali tapi aku juga tak tahu bagaimana cara mengendalikan diriku sendiri. Aku menangis, rasanya pedih sekali.
Jika kau membaca ini dan aku sungguh berharap kau membaca ini bahwa;
Aku ingin kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu.
Aku masih ingin bersamamu
Aku sangat amat peduli padamu
Aku sangat ingin mencium aroma tubuhmu
Aku tak ingin kau pergi untuk selamanya meninggalkanku yang sudah cukup rapuh.
Kumohon, tutup kembali luka goresan, jahitan, dan lubang penuh sesak di hatiku. Sungguh, aku bisa bersumpah demi apapun bahwa air mataku tak pernah berhenti mengalir setiap kali memikirkanmu. Memikirkan kita.
March 5 2019
11.05 pm
Komentar
Posting Komentar